Bidara Menurut Al-Quran dan Hadis

Ziziphus spina-christi, adalah pokok malar hijau atau tumbuhan yang berasal dari Afrika Utara, Afrika Tropika dan Asia Barat Selatan. Ianya dipercayai berasal dari Levant, Afrika Timur dan beberapa negara tropika.

Dalam wilayah Levant, seratus tahun yang lalu, ia dipanggil sidr (dikaitkan dengan pokok-pokok dari Al-Quran) dan lazimnya terdapat di Lembah Jordan dan sekitar Baitulmuqaddis. Ziziphus yang tertua terletak di selatan Baitulmuqaddis, di Ein Hatzeva, Israel. Dianggarkan berusia kira-kira 2000 tahun.

Beberapa jenis pokok dipanggil bidara dalam masyarakat kita. Antara jenis pokok yang panggil bidara ialah:

  1. BidaraUpas -Merremia mammosa
  2. BidaraLaut- Strychnos lucida
  3. BidaraChina -Ziziphus jujuba
  4. BidaraEpal/Epal India/Epal Vietnam- Ziziphus mauritiana
  5. BidaraKampung/Bidara Duri/Bidara Arab - Ziziphus spina-christi

Bidara sidr yang disebutkan didalam sunnah ialah bidara yang berduri. Ia dikenali dengan nama bidara Duri, bidara Kampung atau bidara Arab. Nama saintifik bidara sidr ialah Ziziphus spina-christi.

DALIL DARI AL-QURAN TENTANG POHON BIDARA

Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri.” (Al-Waqiah: 27-28)

Secara ringkas, golongan kanan adalah golongan yang akan masuk syurga. Kemudian nantinya di dalam syurga mereka para golongan kanan berada di antara pohon bidara yang tidak berduri. Para ulama tafsir menjelaskan bahawa pohon bidara tersebut adalah pohon bidara yang telah dipotong durinya.

Di dalam ayat 16 surat Saba’ menyimpulkan bahwa pohon bidara yang sedikit jumlahnya (sidrin qolil). Kemudian dalil dalam surat Al-Waqiah ayat 28 menjelaskan tentang pohon bidara yang tak berduri (sidr makhdud).

Maka mereka berpaling ingkar, lalu Kami hantarkan kepada mereka banjir yang membinasakan, dan Kami gantikan kedua kebun mereka (yang subur) itu dengan dua kebun yang berisi dengan pohon-pohon yang pahit buahnya, dan pohon-pohon yang jarang berbuah, serta sedikit pohon-pohon sidr (bidara).(Saba’: 16)

Selanjutnya dalil dalam surat An-Najm ayat 13-16 menyebutkan bahwa pohon bidara sebagai perbatasan akhir (sidratul muntaha). Dimana “sidratul muntaha” semasa itu dihuni berbagai macam makhluk ghaib.

“Dan demi sesungguhnya! (Nabi Muhammad) telah melihat (malaikat Jibril, dalam bentuk rupanya yang asal) sekali lagi.”(An-Najm: 13)

“Yang di sisinya terletak Syurga “Jannatul-Makwa. (An-Najm: 15)

“(Nabi Muhammad melihat jibril dalam bentuk rupanya yang asal pada kali ini ialah) semasa Sidratul Muntaha” itu diliputi oleh makhluk-makhluk dari alam-alam ghaib, yang tidak terhingga.”(An-Najm: 16)

Ulama’ Ahli Tafsir yaitu Ibnu Kathir pernah membahas tentang tafsir dalam surah Al-Baqoroh ayat 102, di mana ayat ini bercerita tentang fitnah syaitokepada Nabi Sulaiman. Untuk mengilangkan sihir-sihir tersebut Ibnu Kathir memberi anjuran untuk menumbuk 7 helai daun bidara; lalu dicampurkan dengan air dan membacakan ayat-ayat Al-Quran.

DALIL DARI HADIS TENTANG DAUN BIDARA

Sebagaimana tumbuh tumbuhan lain yang disebut dalam Al-Quran pastinya bidara mempunyai keistimewaan dan khasiatnya yang tersendiri. Tambahan lagi ia disebut sebagai salah satu daripada pohon di dalam syurga.

Daun bidara digunakan untuk memandikan jenazah. Jenazah dimandikan sebanyak 3 kali dan mandian yang pertama menggunakan air yang diramas dengan daun bidara di dalamnya.

Hadis dari Ibnu Abbas RA tentang orang yang jatuh dari untanya dan meninggal, Nabi SAW bersabda: “Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara dan kafanilah dengan dua baju. (HR Bukhari-Muslim)

Hadis dari Ummu ‘Athiyah tatkala anak Nabi SAW meninggal, beliau bersabda: “Mandikanlah dengan menyiramkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kapur barus (wewangian).” (HR Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939)

Dari Qois bin ‘Ashim RA, “Sesungguhnya beliau masuk Islam, kemudian Nabi SAW memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun bidara.” (HR An-Nasai no. 188, At Tirmizi no. 605, Ahmad 5/61. Syaikh Al-Albani mengatakan bahawa hadis ini sohih.)

Hadis lain yang menjelaskan tentang penggunaan daun bidara adalah hadis ‘Aisyah bahwasanya Asma` binti Syakal bertanya kepada Nabi SAW tentang mandi haid, maka Nabi SAW menjawab: “Hendaklah salah seorang di antara kalian mengambil air dan daun bidara kemudian bersuci dengan sempurna kemudian menyiram kepalanya dan menyela-nyelanya dengan keras sampai ke dasar rambutnya kemudian menyiram kepalanya dengan air. Kemudian mengambil sepotong kain (atau yang semisalnya) yang telah diberi wangi-wangian kemudian dia bersuci dengannya. Kemudian Asma` bertanya lagi: “Bagaimana saya bersuci dengannya?”. Nabi menjawab : “Subhanallah, bersuci dengannya”. Kata ‘Aisyah: “Seakan-akan Asma` tidak paham dengan yang demikian, maka ikutilah (cucilah) bekas-bekas darah (kemaluan). (HR Muslim)

 

Rujukan

https://lintar.net/manfaat-daun-bidara/#Dalil_Al_Quran_Tentang_Daun_bidara

https://lamosea.com/manfaat-daun-bidara/#Pohon_bidara_disebut_dalam_Al-Quran

https://www.melur.com/kelebihan-daun-bidara-dalam-islam/

https://ms.wikipedia.org/wiki/Pokok_bidara

http://herbadantumbuhan.blogspot.com/2012/12/khasiat-bidara.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Ziziphus_spina-christi

https://en.wikipedia.org/wiki/Levant

Tinggalkan komen

Nama .
.
Mesej .

Ambil perhatian, semua komen perlu diluluskan sebelum dapat disiarkan.